Social Icons

Pages

Kamis, Desember 20, 2012

Say What You Wanna Say, Don’t Be Afraid…


“Pada pertemuan minggu kemarin saya sudah membahas tentang pengaruh kecerdasan emosi  terhadap kinerja pegawai. Bahwa menurut penelitian Daniel Goleman, kecerdasan emosi berpengaruh sekitar 80% terhadap pencapaian prestasi kerja individu, sedangkan kecerdasan intelektual hanya berpengaruh sekitar 20 % saja. Nah sekarang, masih ada yang ingat apa saja aspek kecerdasan emosi yang dikemukakan Daniel Goleman?” sosok dosen muda berwajah cerah dengan senyumnya yang hangat itu memendarkan pandangan ke seluruh isi ruangan. Wajah-wajah di hadapannya menampilkan beragam ekspresi, ada yang tampak berpikir, ada yang hanya cengengesan, ada yang acuh saja. Tapi sepertinya hanya aku yang terlihat lebih gelisah dan menggigit bibir.
Aku tahu jawabannya, aku tahu…  gumamku dalam hati. Rasanya detik itu juga aku ingin mengangkat tangan, menjawab pertanyaan mudah itu sebab tadi malam aku sudah membaca materi tentang ini. Pertanyaan itu terlalu mudah. Tapi yang tidak mudah adalah menjawabnya dengan lantang di depan seluruh kelas, apalagi ini baru minggu ketiga aku berada di kelas baru bersama teman-teman baru.
Ayolah Niken, apa susahnya mengacungkan tangan, lagi-lagi ada dorongan yang memaksa hatiku. Payah, belum apa-apa rasanya tenggorokan sudah tercekat. Aku tahu aku bisa, tapi… berbicara di depan orang banyak dan masih asing ini? Mendadak tubuhku gemetar.
“Ayo, siapa yang bisa menjawab…  Jangan ragu, kalian ini sudah bukan anak SMP atau SMA yang hanya mendengar dan mendengar. Sekarang kalian sudah mahasiswa semester satu. Ingat, ‘mahasiswa’” dosen tersebut tersenyum. Kemudian lanjutnya “biasakan untuk mengatakan apa yang ingin kalian katakan..”  

Mendengar kalimat terakhir tiba-tiba aku tersentak. Katakan apa yang ingin kalian katakan. Hei, kalimat itu…

Dan tiba-tiba seraut wajah muncul begitu saja di hadapanku. Wajah yang manis dan sedang tersenyum, seperti menyemangati. Aku tercekat. Dinda….

Mendadak seketika itu juga aku merasa ada keberanian luar biasa yang menyelimutiku. Tanpa kusadari, sepotong tangan tahu-tahu terangkat ke atas, tanganku!

“Oke, akhirnya ada yang mau menjawab juga… Maaf saya belum kenal semua mahasiswa di sini, boleh sebutkan dulu namanya siapa?”

“Emm.. Niken, pak..”

“Baik Niken, jadi apa jawabannya?”

Aku mengatur jeda. Pada detik yang bersamaan aku didorong rasa berani yang muncul seketika, diserang perasaan gugup, sekaligus sebersit rasa menyesal karena telah mengangkat tangan. Tapi kemudian wajah Dinda yang terlihat semakin jelaslah yang berhasil menentukan perasaan mana yang jadi juara. Lalu akhirnya, suara yang sebelumnya tidak kuyakini suaraku perlahan mulai terdengar…
                                                               # # #

Namaku Niken. Sejak kecil aku termasuk anak yang pendiam dan pemalu. Di antara tiga saudaraku, aku satu-satunya yang memiliki sifat ini.  Jika keluarga besarku tengah berkumpul dan mengobrol, aku yang paling irit mengeluarkan kata-kata. Keluargaku memahami hal ini. Dan mereka jarang mempermasalahkan sifat pendiam akutku. Paling-paling papa pernah berseloroh “cuma Niken anak papa yang ga pernah bikin papa pusing, soalnya Niken ga cerewet”.
Saking pemalunya, setiap kali ada tamu yang datang bertandang ke rumah, aku jarang membukakan pintu. Biasanya aku langsung lari, menyembunyikan diri di kamar dan membiarkan Bik Sari atau anggota keluarga yang lain saja yang membuka pintu. Entahlah, rasanya aku canggung jika harus mempersilakan tamu masuk. Aku mendadak seperti kehilangan kata, terlebih jika tamu itu orang-orang baru yang tidak kukenal.
Sifat pemalu dan pendiamku sebenarnya bukan tanpa sebab. Mama bilang sejak balita bakat pendiamku memang sudah kentara, namun hal ini lebih menjadi lagi ketika aku pernah mengalami kejadian traumatis saat baru saja duduk di hari pertama masuk TK. Saat itu aku tidak pernah mengerti bahwa yang dinamakan masuk sekolah adalah akan bertemu dengan banyak orang-orang asing dalam satu ruangan besar. Selama ini di rumah aku terbiasa hanya dengan papa, mama, kakak, adikku dan Bik Sari. Sedangkan di ruangan yang sama sekali asing dan jauh dari rumah ini aku berada di antara begitu banyak manusia yang tidak kukenal. Hanya mama satu-satunya yang tidak asing di ruangan ini. Aku menggenggam tangan mama erat sepanjang hari, takut ditinggal sendirian. Apalagi suara gaduh calon teman-teman baruku membuat perasaan semakin tidak nyaman. Suara tangisan, teriakan, bertanya ini itu, aku merasa kepalaku pusing.
 Lalu tibalah saat di mana ibu guru menyuruh kami, calon murid-muridnya maju ke depan seorang diri dan memperkenalkan nama. Aku panik dan ketakutan. Aku tidak pernah berbicara di depan banyak orang sebelumnya. Aku gemetaran. Mama terus tersenyum padaku tapi itu sama sekali tidak membantu. Aku merasa perut tiba-tiba mual. Sementara ibu guru terus saja mendesakku bicara. “Ayo jangan takut”. Aku malah semakin takut. Setelah sekian menit berdiri dan dipandangi orang-orang banyak, aku masih bungkam. Didorong rasa panik yang tidak tahu harus kuatasi dengan apa akhirnya aku pun menangis. Berakhirlah sudah sesi perkenalan versiku, sukses tanpa sepatah kata.
Sejak saat itu aku dihinggapi perasaan trauma jika harus berbicara di depan banyak orang, terlebih orang-orang asing. Dan masa-masa awal masuk sekolah, entah itu SD atau SMP adalah hari terberat dalam hidupku. Belum masuk kelas aku sudah merasa stres. Momen perkenalan di depan kelas adalah hal yang paling aku benci sepanjang masa sekolah. Terlebih pandangan mata teman-teman baru yang seolah menikami  mataku. Tapi biasanya setelah masa sekolah berjalan, teman-teman mulai bisa menerima sifat pendiam dan pemalu meskipun tidak jarang aku menerima sindiran. “Eh ada Niken ternyata, kirain patung”. Kalimat seperti itu sudah jadi makanan sehari-hari. Beruntung aku sudah kebal. Mau bagaimana lagi, aku memang pemalu.
Tapi terkadang aku merasa sedih jika ada guru yang mengajukan pertanyaan untuk kami jawab sedangkan aku tak pernah berani meski aku tahu jawabannya. Apalagi aku selalu masuk tiga besar sepanjang masa sekolah. Aku selalu tahu jawabannya tapi tak pernah berani mengangkat tangan dan menjawab, sekalipun aku ingin sekali melakukan itu. Tidak sedikit guru-guru yang merasa heran kenapa aku yang pendiam dan pasif, yang tidak pernah mau menjawab pertanyaan tapi selalu mendapat nilai yang bagus. Aku pernah mendapat masalah gara-gara ini. Pada masa SMP dulu salah seorang guru menuduhku mendapat nilai yang tinggi karena mencontek. Parahnya beliau mengatakan itu saat pembagian hasil ulangan di depan kelas. Seketika itu juga aku langsung marah. “Ibu, saya memang pendiam, tapi saya tidak bodoh”. Seingatku, itu adalah satu-satunya kalimat paling pedas yang pernah aku katakan pada orang lain, pada guru pula. Tapi seharusnya guruku itu bisa lebih bijak, tidak terang-terangan mengatakan hal sejahat itu di depan kelas. Syukurlah hal itu tidak menjadi masalah berkepanjangan.
Namun segala yang berlebihan memang tidak baik. Sifat pemalu dan pendiamku ini rupanya terlalu kelewatan. Dan pada suatu ketika Tuhan mengubah itu dengan caraNya yang begitu menakjubkan, dari sisi tak terduga sama sekali. Dikirimkanlah satu sosok istimewa yang kelak akan membuatku berubah. Dan sosok itu bernama Dinda.

                                                                 # # #

Dinda adalah sahabat terdekatku saat SMA. Kini setelah kuliah kami harus terpisah karena Dinda masuk Universitas yang berbeda meski masih satu kota. Kami masih saling berkomunikasi hingga hari ini. Bagiku, dia adalah sahabat terindah karena tidak hanya sekedar sahabat, tapi juga sosok yang selalu menginspirasiku. Dinda gadis manis, cerdas, senyumnya ramah. Hatinya halus dan berjiwa sosial tinggi. Banyak guru dan teman-teman yang sangat menyayangi Dinda meskipun Dinda memiliki keterbatasan. Dinda tunawicara sejak balita, tapi masih bisa mendengar.
Tidak seperti penyandang tunawicara lain yang biasanya dimasukkan ke sekolah luar biasa, Dinda tetap dimasukkan sekolah biasa oleh orangtuanya. Aku tahu bahwa perjuangan memasukkan Dinda ke sekolah biasa bukan hal yang mudah. Ibu Dinda pernah bercerita sendiri padaku  bahwa  mendaftarkan Dinda ke sekolah biasa hampir selalu diawali dengan keraguan bahkan penolakan pihak sekolah. Tapi hal itu tidak menyurutkan tekad ibu Dinda. Ia tetap yakin Dinda mampu bersekolah di sekolah biasa. Beliau yakin Dinda bisa memahami pelajaran dengan normal seperti anak-anak lainnya, terlebih Dinda memang sangat cerdas. Terbukti dari peringkat satu yang diraihnya sepanjang tiga tahun di SMA, belum lagi prestasi lainnya semasa SD dan SMP. Aku belajar banyak dari ibu Dinda bahwa tekad bisa membuat semua menjadi mudah. Aku sangat mengagumi beliau, dan tentu saja mengagumi Dinda.
Meski tunawicara, namun rasanya amat jarang aku melihat ia murung, mengeluh, menangis meski ia bisa mendengar bagaimana orang lain mencemoohkannya. Dinda adalah pribadi paling tegar yang pernah aku kenal. Dia kuat dan hebat. Dia hanya tersenyum saja setiap mendengar kata-kata tidak enak yang tertangkap olehnya. Kadang aku sempat berpikir, mengapa Dinda harus bisa mendengar. Seandainya ia tidak bisa mendengar, paling tidak ia takkan pernah tahu apa yang dikatakan orang-orang padanya. Aku tahu dia sebenarnya sedih, tapi hebatnya tak pernah ia tunjukkan di depan orang lain. ia hanya tersenyum lembut lalu mengatakan “tidak apa-apa” dengan bahasa isyarat. Aku saja belum tentu bisa setangguh itu rasanya.
Dinda juga pribadi yang mandiri. Jika ibunya berhalangan mengantar ke sekolah, Dinda sudah terbiasa menaiki kendaraan umum. Biasanya jika angkot itu belum dikenali, Dinda akan menuliskan di mana ia berhenti pada supir angkot atau kondektur metromini. Tapi supir-supir yang sudah mengenal Dinda biasanya mengerti Dinda diturunkan di mana.
Awal kekagumanku pada Dinda bermula di sebuah angkot saat kami pulang dari sekolah. Hari itu hari kedua masuk SMA. Aku sudah tahu kalau Dinda teman sekelasku dan dia tunawicara. Tapi karena belum akrab kami hanya saling melempar senyum saja. Saat itu terus terang aku enggan duduk dengan Dinda, aku takut ia akan mengajakku bicara sedangkan aku sama sekali tidak mengerti bahasa isyarat dan sebelumnya tidak pernah berinteraksi dengan penyandang tunawicara. Selama dua hari di kelas pun kami belum pernah berinteraksi langsung. Lagipula rasanya aku merasa malu kalau orang-orang tahu Dinda adalah teman sekelasku. Akhirnya aku memilih duduk di depan bersama supir meski harus terganggu suara musik yang diputar terlalu kencang. Sementara Dinda duduk di belakang bersama seorang penumpang lainnya yang sudah sepuh.
Di tengah perjalanan aku dikejutkan suara pukulan berulang-ulang. Sontak aku dan sopir menengok, tampak Dinda sedang memukul-mukul atap mobil dengan tangannya. “Ada apa sih?’’ supir itu memasang wajah ketus sambil menghentikan laju mobil. Nenek tua yang duduk di bangku belakang bersama Dinda yang menjawab. “Saya dah bilang kiri, kiri dari tadi, kamu ga denger..neng ini bantu minta berhenti, tapi dia ga bisa ngomongnya. Makanya kalo pasang musik jangan keras-keras, jadinya ada yang minta berhenti ga kedengeran” ibu tua itu menggerutu pada supir dengan wajah kesal.
Rupanya nenek itu minta berhenti dari tadi tapi suaranya terkalahkan musik yang diputar terlalu kencang oleh supir. Tempat di mana beliau akan turun juga sudah semakin jauh. Dinda yang turut mendengar sepertinya ingin membantu nenek tadi. Ia berteriak sekuat tenaga tapi hanya suara “kheii..kheii” yang terdengar parau. Dinda lalu memukul-mukul atap mobil untuk menarik perhatian sopir. Dan akhirnya berhasil.  
Aku masih memerhatikan Dinda ketika nenek tua itu menggenggam tangan Dinda sebelum beranjak turun. “Makasih ya neng, sudah bantu saya…” matanya terlihat iba sekaligus kagum. Dinda tersenyum dan mengangguk. “Musiknya jangan keras-keras lagi bang, nanti pas neng ini turun kamu ga denger juga lagi, neng ini ga bisa ngomong” sebelum membayar ongkos ibu tadi berpesan. Diam-diam aku kembali melirik Dinda, tampak ada sedikit mendung saat mendengar ucapan ‘neng ini ga bisa ngomong’. Tapi mendung itu hanya sekelebat saja. Dalam hitungan detik aku bisa melihat Dinda tersenyum sendiri.
Aku yang duduk di depan hanya bisa terpaku menyaksikan kejadian ini. Detik itu juga aku kagum dan salut. Dinda, dengan keterbatasannya masih berusaha menolong orang lain dengan cara yang ia bisa. Aku sungguh merasa berdosa karena sempat malu memiliki teman tunawicara, padahal sesungguhnya Dinda adalah sosok yang luar biasa. Sejak itu aku mulai berteman dengan Dinda. Meski awalnya kesulitan berkomunikasi, kami akhirnya bisa menjadi teman yang akrab. Aku nyaman dengannya karena DInda nyaris tidak pernah membuatku kesal atau marah. Selain denganku, Dinda memiliki banyak sekali sahabat yang juga merasa sangat sayang padanya.
Jika bukan dengan bahasa isyarat, biasanya Dinda menulis apa yang ingin ia sampaikan melalui note kecil yang selalu ia bawa. Note itu juga yang sering ia tunjukkan pada guru apabila ingin menjawab pertanyaan yang diajukan.  Ah untuk hal yang satu ini jujur aku iri. Meski harus menjawab pertanyaan guru kami melalui tulisan pada notenya, tapi Dinda tak pernah melewatkan kesempatan sepanjang ia tahu jawabannya. Tapi tidak semua guru kami menerima hal ini. Pernah salah seorang guru terang-terangan melecehkan Dinda dengan berkata” yah, lama dong, harus nulis dulu..ayo yang lain saja lah yang jawab”. Aku terkejut mendengarnya, kata-kata itu sungguh tidak pantas meskipun tidak secara terang-terangan menyudutkan keterbatasan Dinda. Dari sudut mataku aku sempat melihat Dinda yang sepertinya sama terkejut karena ia berhenti menulis. Dinda mengangkat wajahnya, menatapku. Baru kali ini aku melihat Dinda tampak berkaca-kaca. Aku tercekat. Aku ingin menangis melihat Dinda berkaca-kaca. Aku tahu Dinda terluka, sangat terluka.  Sungguh, itu kali pertama melihat Dinda seperti ini. Teman-teman kami rupanya merasakan hal yang sama. Marah sekali rasanya pada guru kami ini. Tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa. Perkataan tersebut sungguh tidak arif, sungguh tidak layak diucapkan oleh seorang guru terhadap anak didiknya, apalagi seharusnya beliau bisa memahami kondisi Dinda.
Selama ini aku selalu beranggapan guru adalah sosok yang selalu bijak, tapi rupanya memang tidak banyak manusia yang bisa menerima dan memahami sebuah keterbatasan dengan tulus, sekalipun itu adalah sosok yang dinilai paling bijak sekalipun. Sepertinya, memahami keterbatasan adalah hal paling sulit bagi mereka yang selalu merasa dirinya sempurna. Siapapun itu. Tapi untunglah tidak banyak guru-guru tidak arif seperti itu di sekolah kami. Dan Dinda masih saja semangat menjawab pertanyaan guru-guru kami meski harus dengan cara menulis.

                                                                   # # #

Lama bersahabat dengan Dinda aku masih belum belajar banyak juga rupanya. Meski iri dengan cara Dinda yang selalu berani menjawab pertanyaan dari guru, selalu berusaha menolong orang lain, selalu mandiri mengatakan apa yang ingin ia katakan, aku tidak sedikitpun tertantang untuk bisa seberani Dinda. Aku masih saja seperti ini, terlalu pemalu. Kikuk.
Sering aku merasa marah pada diriku sendiri karena tak bisa berbuat apa-apa untuk membela Dinda setiap kali ada orang yang menyakitinya. Aku tak bisa balas menegur bahkan sekedar menasehati mereka yang sudah menyakiti sahabatku sendiri. Aku hanya bisa diam lalu menghibur Dinda dengan cara lain. Sepertinya Dinda salah memiliki teman yang tidak bisa diandalkan sepertiku.  Namun Dinda paham kalau sifatku ini sudah sangat sulit dirubah. Setiap kali aku panik dan gugup untuk berbicara di depan umum, Dinda hanya menatapku, menghela nafas dan menggelengkan kepalanya.
Aku masih saja takut berbicara di depan umum, sekalipun di depan orang-orang yang sudah sangat dekat. Entahlah, saat dimana ada orang lain dengan jeda hening menunggu kata-kata terlontar dari mulutku adalah saat yang sangat menegangkan. Aku merasa tidak siap, tidak pernah siap. Belum apa-apa perutku sudah mulas. Mulut seperti terkunci. Aku mendadak benci dengan jeda hening itu. aku benci dengan orang-orang yang menunggu dan mendesak ada kata yang harus terucap dari mulutku. Bayangan saat masa perkenalan TK dulu selalu saja datang tanpa kuminta. Menciutkan nyali.
Sampai pada suatu hari, aku menghadapi masalah berat. Guru bahasa Indonesia di sekolah mengumumkan minggu depan akan diadakan deklamasi puisi untuk praktek Ujian akhir. Aku benci saat-saat seperti ini. Terbayang hari paling menyebalkan sedunia ketika masa SD atau SMP dulu aku harus maju ke depan, membaca puisi atau bernyanyi saat pelajaran seni. Bisa dibayangkan bagaimana aku jadi murid dengan suara yang paling pelan saat maju ke depan. Dan sekarang, hari seperti itu akan terulang lagi. Baru diumumkan aku sudah pucat pasi. Aku mendadak kehilangan nafsu makan dan berharap minggu depan terjadi banjir atau sekolah tiba-tiba diliburkan, atau apapun itu yang penting bisa menggagalkan praktek deklamasi puisi. Rasa panik memang bisa membuatmu berpikiran hal bodoh.
Menjelang istirahat aku mengeluh pada Dinda. “Din, gimana minggu besok, aku ga bisa baca puisi depan kelas. Aku benci banget, kenapa sih harus ada acara deklamasi segala, depan kelas, ditonton banyak orang..aaa” aku memulai sesi curhat di kantin sekolah. “Aku malu, ga siap, tertekan banget ras..” belum selesai bicara tiba-tiba aku sadar raut wajah Dinda berubah seketika. Ia menatapku tajam, sesuatu yang belum pernah aku terima darinya selama ini. Aku mendadak jengah. “Ih kamu ko melototin aku sih din”. Di luar dugaan mata Dinda langsung berkaca-kaca. Aku kaget dan bingung dengan sikapnya. Dinda menatapku begitu aneh. Sambil menggeleng Dinda tiba-tiba berdiri dan meninggalkanku begitu saja. Loh apa salahku?
Sejak siang itu Dinda seperti menjauh dariku. Aku benar-benar tidak mengerti dengan sikap aneh Dinda. Apa salahku? Apa ada yang salah dengan curhatanku siang itu?
Lama-lama aku kesal juga dengan sikapnya yang dingin dan ketus padaku, apalagi aku merasa tidak bersalah apapun. Maka dua hari setelah siang yang aneh itu aku hampiri Dinda di mejanya saat istirahat. “Din, kamu kenapa sih? Ko kamu aneh gitu? Aku salah apa sama kamu?” aku menatapnya kesal. Baru kali ini aku merasa kesal pada Dinda. Dinda masih saja diam. Dia menatapku, masih dengan tatapan yang tak bisa kupahami maksudnya. Seperti marah, kecewa, kesal, sedih. Tapi aku tak tahu mengapa. Dinda tampak membuka mulut dan menggerakkan tangan, aku paham dia akan bicara dengan bahasa isyarat. Aku sudah siap-siap mengikuti setiap kata yang Dinda ucapkan, tapi sejurus kemudian Dinda justru menghentakkan kakinya lalu berlalu begitu saja. Meninggalkanku dalam keadaan bingung untuk kedua kalinya. Menghentakkan kaki adalah salah satu kebiasaan Dinda jika ia sedang kebingungan menyampaikan sesuatu atau sedang kesal. Apa yang sebenarnya ingin Dinda katakan?
Seharian aku merasa resah dan bingung. Dinda sendiri tampak murung. Namun siang sebelum pulang, Dinda menghampiriku dan menyerahkan secarik kertas. “Apa ini?” ujarku. “Baca saja” ujarnya melalui bahasa isyarat. Aku mengangguk pelan meski masih bertanya-tanya apa isinya. Kubuka surat itu…

“Niken, maaf kalau dua hari ini aku bersikap kurang baik. Kalo boleh jujur, aku merasa sedih, kecewa dan marah sekali mendengar keluhanmu soal deklamasi puisi minggu depan. Seandainya kamu tahu, hatiku terluka mendengar kamu mengeluh tentang itu. Niken, apa kamu ga pernah sadar? Kamu dianugrahi Tuhan suara yang jelas, normal, lantang, bisa dimengerti orang lain. Tapi kenapa kamu mempermasalahkan hal-hal sepele hanya karna kamu merasa malu dan takut? Bayangin kalo kamu jadi aku, ken… Aku punya keterbatasan. Deklamasi puisi di depan kelas ga pernah bisa aku ikuti, jangankan deklamasi, bicara biasa saja aku sulit. Sejujurnya selama ini aku sering kecewa dengan sikapmu yang terlalu pemalu dan pendiam, terutama saat ada hal penting yang harusnya bisa kamu sampaikan tanpa perlu mengalami kesulitan seperti aku. Apa kamu ga pernah bayangin gimana rasanya jadi aku? Tahukah kamu betapa besar keinginanku untuk bisa bicara seperti kamu?  Tidak tahukah betapa seringnya aku ingin berteriak, menjerit, mengatakan dengan jelas apa yang aku rasa. Semua senangku, sakitku, marahku, kecewaku… tapi semua hanya tertahan. Niken, seharusnya kamu bisa mensyukuri suara yang Tuhan beri buat kamu. Pendiam itu bagus ko, ken. Tapi diam di saat ada hal-hal baik atau hal penting itu namanya kamu ga bersyukur… Kamu ga manfaatin apa yang udah Tuhan beri. Bayangin gimana posisiku ken… Gimana pedihnya setiap kali aku berusaha nyampein sesuatu tapi aku ga mampu menyampaikannya dengan jelas. Betapa bingungnya setiap kali kalian ga paham apa yang aku maksud. Semua itu kadang menyakitkan, ken… Semua itu kadang membuatku lelah. Dan aku marah karna kamu, yang punya suara jelas dan bagus justru mempermasalahkan sesuatu yang sepele. Ken, jangan pernah takut atau malu untuk bicara, selagi apa yang kamu katakan itu baik dan penting.  Kamu inget lirik lagu Mocca favorit kita? Say what you wanna say, don’t be afraid..  Aku aja yang tunawicara masih berani mengatakan apa yang ingin aku katakan, walau pake bahasa isyarat atau dengan tulisan… kenapa kamu yang ga bermasalah dengan suara justru selalu takut dan malu untuk mengatakan apa yang ingin kamu katakan?”

Aku ingat, saat itu barisan kata terakhir dalam surat kecil Dinda sudah tidak begitu jelas terbaca. Mataku mengabur sudah…
                                                                 # # #

“Baik, jadi bagaimana jawabannya, Niken?”
“Emm.. Goleman membagi kecerdasan emosi ke dalam berbagai aspek, yaitu kemampuan mengenali emosi diri, kemampuan mengelola emosi, kemampuan memotivasi diri, kemampuan mengenali emosi orang lain, kemampuan membina hubungan dengan orang lain
Begitu selesai, aku tertegun. Itu aku, yang barusan menjawab pertanyaan itu adalah aku. Sesuatu yang selama ini tak pernah aku lakukan. Meski agak tersendat-sendat tapi aku bisa mengatakan jawaban dengan cukup tenang dan lancar, seperti sudah terbiasa saja. Dan hei, tak ada rasa mulas di perut.
Aku masih tak percaya dengan apa yang kulakukan ketika suara dosenku terdengar. “Bagus, Niken, terimakasih sudah menjawab. Kamu menjawab dengan benar” seulas senyuman diiringi tepukan tangan seisi ruangan menyadarkanku dari sensasi takjub yang sedang aku rasakan dalam diriku sendiri. Benarkah yang barusan menjawab itu aku? Niken, kemana saja keberanianmu selama ini? Mengapa baru sekarang.. Padahal menjawab pertanyaan di depan kelas itu ternyata mudah saja.
Aku tersenyum tanpa sadar. Ternyata sangat lega dan menyenangkan bisa menjawab pertanyaan dosen di depan kelas, di depan banyak orang. Ternyata lega bisa mengatakan apa yang ingin aku katakan. Tapi bukan tepukan tangan atau senyum hangat dosenku saja yang membuatku bahagia, melainkan karena aku berhasil melakukan sesuatu yang sebelumnya tak pernah berani aku lakukan, padahal semua itu ternyata mudah seandainya aku mau mencoba. Dan kini aku telah menang. Aku berhasil menang mengatasi ketakutanku sendiri, ketakutan yang menderaku selama bertahun-tahun. Aku berhasil menang melawan rasa panik, malu, canggung dan takut. Tuhan, ternyata menyenangkan rasanya…
Semua ini karena Dinda. Jika bukan wajahnya yang melintas tadi, jika bukan karna suratnya beberapa bulan silam itu, sepertinya aku masih saja jadi Niken yang terlalu pendiam dan pemalu. Tidak pernah berani mengatakan apa yang ia tahu, apa yang ingin ia katakan… Yang selalu kalah oleh rasa malu, padahal aku sudah dianugrahi Tuhan sesuatu yang tidak semua orang miliki, yang tidak sahabatku Dinda miliki.
Diam-diam aku ingin menangis.  Aku rindu Dinda, aku sungguh beruntung memiliki sahabat sehebat dia. Terimakasih, din.. kamu mengajariku banyak sekali hal berharga. Bahwa aku sudah diberi nikmat yang begitu besar, harusnya aku bisa memanfaatkannya untuk hal baik dan penting, seperti yang kamu bilang. Kamu benar, Dinda.. katakan apa yang ingin kamu katakan, jangan takut..
Hidup memang ajaib dan mengagumkan. Ia mengajari manusia berbagai makna dengan cara yang tak terduga. Seperti apa yang kualami saat ini. Ketika aku “belajar bicara” dari seseorang yang bahkan memiliki keterbatasan untuk melakukannya…

Do what you wanna do,(do what you wanna do)
Say what you wanna say
And don't be afraid
As long as everybodies happy
And everybodies feeling okay
You've got to do what you wanna do
Say what you wanna say, now *Mocca-Do What You Wanna Do.


Garut, Desember 2012
Terinspirasi dari teman-teman saya yang pemalu banget, suka gemesss deh sama kalian, hehehe.. piss..

#Cerpen ini diikutsertakan dalam lomba blog Aku dan Sahabat Disabilitasku

8 komentar:

  1. Bagus banget Han, sampai ndak pingin berhenti bacanya sampai abis :)

    Semoga cerita ini bisa menjadi inspirasi bagi mereka yang masih terlalu "takut" untuk menyuarakan suara hatinya, we never know until we try :)

    Good luck ya lomba nya..moga bisa menang..:)

    BalasHapus
  2. makasih banyak ya mas udah baca cerpennya... saya juga berharap tulisan ini bisa sedikit memotivasi orang-orang untuk lebih ''speak up your mind'', hehehe... aamiin, aamiin, sekali lagi makasih mas :)

    BalasHapus
  3. Dinda begitu inspiratif ya, mski bkn kisah nyata...
    Saya terharu :')

    BalasHapus
  4. @yuniar : semoga sosok dinda bisa menginspirasi dan memotivasi :)

    BalasHapus
  5. keren cerpennya, suka tulisannya rapih..semoga menang ya. :)

    BalasHapus
  6. hehe, tapi saya masih ngerasa banyak kekurangan disana sini... huhu...

    aamiin, makasih doanya kang :D

    BalasHapus
  7. cerpennya bagus... bahasanya bagus.... pokonya mantep deh

    BalasHapus
  8. hihihi, hatur nuhun pisan Mang Yono... tapi isin, seueur keneh kakirangan :)

    BalasHapus

Hei sobat, komenin postingannya dunk... Tapi pleaaseee jangan ninggalin link hidup di sini yaa, makasih ^^