Social Icons

Pages

Kamis, November 28, 2013

Gandrung Musik Folk



www.whatsonoundle.org.uk
Saya menyebut tahun 2013 ini sebagai tahun “gandrung musik folk”, karena di tahun ini saya mengenal sejumlah musisi yang membuat saya semakin gandrung dengan folk, genre musik yang sederhana namun bisa demikian indah, menyentuh dan kaya makna. Saya mengenal folk sudah lama sebenarnya, antara lain melalui lagu-lagu Iwan Fals.  Namun saat itu saya belum tau kalau jenis musik yang saya dengar tersebut bernama folk (saya kira itu jenis musik balad.  Saya memang belum bisa membedakan antara folk dan balad, pun hingga saat ini, hehe). Saya baru "ngeh" dengan genre musik folk ketika jatuh hati dengan Payung Teduh pertengahan 2012 silam. Meski mereka sendiri tidak melabeli diri dengan genre musik folk dan menyerahkan sepenuhnya genre musik yang mereka usung pada pendengar, tetapi banyak yang menyebut Payung Teduh beraliran folk. Terpikat dengan lagu-lagu PT dan nuansa folk yang membekas dalam merasuk sukma *hohoh* saya pun mencari tahu lebih banyak mengenai folk. Sayangnya referensi mengenai musik folk yang saya peroleh sangat sedikit, sehingga saya juga belum paham lebih jauh, masih sekedar meraba-raba.."oh folk itu begini".. Tapi hal itu tak menyurutkan tekad saya mencintai folk.
Minimnya referensi mengenai musik folk mungkin disebabkan folk sendiri tak sepopuler genre musik lainnya, terlebih selama satu dekade folk tergeserkan gaung musik rock. Akan tetapi beberapa tahun terakhir folk kembali menggema di Indonesia, ditandai menjamurnya sejumlah musisi folk di ranah musik indie.

Tapi saya menyukai folk bukan karna folk tengah ngetrend kembali belakangan ini, melainkan karna saya merasa folk adalah genre musik yang paling pas dengan telinga saya selain pop, balad, jazz juga keroncong. Folk itu sederhana, namun indah. Folk itu menenangkan, menyenangkan. Folk itu teduh. Folk itu seperti mewakili isi hati. Mendengarkan folk itu seperti.. menemukan belahan jiwa.Dan menikmati musik folk ditemani secangkir teh di tengah udara dingin kota Garut adalah salah satu momen paling menyenangkan. Betapa bahagia itu sederhana saja :)

semoga album yang lainnya bisa segera dikoleksi juga (belinya nyicil sih,hehe)


Berikut ini adalah sejumlah musisi folk yang sangat saya sukai:


     Payung Teduh
PT berdiri tahun 2007 berawal dari profesi pemain musik Teater Pagupon. Dua orang formasi awal yaitu Is (gitar & vokal) dan Comi (contra bass), dua orang yang suka nongkrong di kansas (kantin sastra FIB UI), gemar ngejam,ngamen dan bernyanyi untuk orang-orang di kantin tersebut yang akhirnya memutuskan membentuk Payung Teduh, dengan tambahan personil Ivan Penwyn dan Alejandro Saksakame[1]. Saya pernah menulis tentang mereka di sini.

2   Dialog Dini Hari
Trio asal Bali yang menyuguhkan paduan folk, blues dan balad dengan lirik puitis bertema kehidupan, cinta, alam, sosial. Lagu-lagu DDH ini sejuk, menentramkan, kontemplatif. Kadang terkesan kelam (sperti Bumiku Buruk Rupa), kadang juga riang. .seperti lagu Pagi (saya menyebutnya sebagai lagu kebangsaan mereka yang masih jomblo, hahaha). Setiap kali mendengar suara Om Dadang rasanya seperti mendapat spirit, energi baru untuk berkontemplasi. Manuskrip Telaga adalah salah satu lagu menentramkan yang paling saya sukai dari DDH.
Pada akhir kuartal pertama di tahun 2008, para motor penggerak dua band besar asal Bali – Dadang SH Pranoto dari NAVICULA dan Ian Joshua Stevenson serta Mark Liepmann dari KAIMSASIKUN – duduk bersama. Menyepakati diri mengalirkan dialog bebas lepas tengah malam dan merangkumnya kedalam musik dan notasi sederhana. Sembari sejenak menanggalkan emblem yang telah menahun melekat pada eksistensi Navicula yang sering dijuluki neo-green-phsycadelic-grunge-core dan Kaimsasikun dengan stempel deep-psycho-britt-rock-nya. Leburan demi leburan blues, folk dan ballad ditakar oleh DIALOG DINI HARI sedemikian tepat sebagai degup-melodi penghantar pesan ringan-cerdas-indah dalam warna vokal bariton yang merdu menyeruak dari dalam luka yang membekas. Sedangkan dominasi suara gitar aksutik dan semi-steel-dobro yang khas, plus selingan gesekan steel-slide yang kasar dan ekspresif berhasil membangun dinamika nuansa live yang sangat terjaga.[2]

3   FLOAT
Band yang belakangan ini membuat saya gregetan karena sejumlah lagunya yang  jleb nancep di hati. Hehe lebay yak? Gapapa deh...
Saya berkenalan dengan Float bulan April lalu. Dikenalkan oleh kawan saya, Mario Rouv, seorang seniman asal Magelang. Bagi yang pernah menonton film 3 Hari Tuk Selamanya tidak akan asing dengan lagu-lagu Float karena soundtrack di film tersebut diisi oleh Float. Indah Hari Itu (IHI), Stupido Ritmo, Pulang dan Sementara adalah lagu-lagu yang saya dengar di awal perkenalan dengan Float. Semuanya sangat memikat. Belakangan ini saya juga sedang getol memutar Sendiri (Guruh Soekarno Putra Cover), Nyiur Hijau (Maladi cover) dan When Was Last Time You Disappeared yang membuat saya merinding, terutama lagu Sendiri. Serius, keren banget lagunya!
Float adalah sebuah band yang didirikan pada tanggal 30 Agustus 2004 oleh Hotma "Meng" Roni Simamora, Windra "Bontel" Benyamin, dan Raymond Agus Saputra. Pada awal tahun 2005 Float merilis mini albumnya yang berjudul "No-Dream Land" secara independen. Mini album ini menarik perhatian produser film Mira Lesmana yang kemudian meminta Float mengisi album soundtrack untuk film "3 Hari Untuk Selamanya" (2007) yang disutradarai Riri Riza. [3]

4   Tigapagi
Meskipun saya menggandrungi folk setelah mengenal Payung Teduh, tapi bisa dikatakan bahwa band folk pertama yang saya simak dari scene musik indie adalah Tigapagi. Pertama kali mengenal Tigapagi saat menonton siaran LA Light Indie Fest 2008 di salah satu stasiun televisi swasta. Saya ingat malam itu lagu Menari yang mereka lantunkan membuat saya bergetar.  Dan salah satu lagu Tigapagi bertajuk Batu Tua termasuk ke dalam daftar lagu paling berpengaruh dalam hidup saya, hehe.. Saya pernah menulis postingan yang terinspirasi dari lagu Batu Tua.
Tigapagi sendiri berasal dari Bandung, pernah menjadi finalis La Light Indiefest 2008. Meski telah berdiri sejak 2004 tetapi baru 30 Oktober kemarin mereka mengeluarkan album perdana bertajuk Roekmana’s Repertoire. Profil lengkap sila klik di sini.


Album Roekmana's Repertoire



5   Katjie Piering
Tahun 2011 saya pernah menulis tentang mereka di postingan ini. Kinanti dan Zsa Zsa Zsu (Rock N Roll Mafia cover) menjadi lagu favorit saya dari Katjie n Piering.. Banyak yang mengatakan bahwa mendengar Katjie n Piering seperti dibawa ke dalam suasana sore menjelang malam di kota Bandung pada tahun 1920 an, katanya, karna saya sendiri tidak pernah tahu Bandung tahun 1920 an seperti apa, hehehe...

6   Nadafiksi
Terbentuk tahun 2009 dan berasal dari Bandung, kini beranggotakan Dwi Kartika Yudhaswara (gitar, vokal) dan Ida Ayu Paramita Saraswati (vokal, pianika). Saya mengenal mereka Juni 2012 lalu dari Kang Heri Hartono, kawan sesama pecinta musik indie. Awalnya saya menyimak video mereka di youtube. Jatuh cinta pada pandangan pertama ternyata memang ada. Buktinya video Benci Untuk Mencinta (Naif cover) seketika membuat saya jatuh cinta dengan Nadafiksi. Lagu dan konsep videonya memukau saya kala itu. Disusul Secarik Buram Kertas dan Burung yang semakin membuat saya jatuh hati dengan Nadafiksi.  Selain yang tadi, lagu favorit saya dari Nadafiksi adalah Darimu Untukku, Misteri Minggu Depan, Barisan Khayalan, Speak Softly Love (Andy Wiliam cover), Bukit Berbunga (cover), hahaha itu mah semuanya atuh yah.. pokonya saya suka banget sama Nadafiksi. Salah satu note fb saya ditulis setelah mendengarkan lagu mereka pada suatu malam di bulan November 2013, diiringi tangisan dan srottt nyedot umbel karna lagu Darimu Untukku dan Speak Softly Love benar-benar menyayat hati malam itu.  

  DeuGalih and Folks
Sejujurnya agak sulit mencari lagu dan profil lengkap Deugalih and Folks, hehe.. Selepas vakum dari Schizhophones (band beraliran grunge) Galih Su membentuk DeuGalih and Folks yang beranggotakan sekitar 9 orang, salah satunya adalah dosennya sendiri. Konon para personilnya bukan orang-orang sembarangan, beberapa di antaranya adalah eksponen scene-country music Bandung. [4]Dengan alat musik yang lebih beragam seperti mandolin, suling Sunda, kecapi, biola, harpa, banjo, dll. lagu-lagu DeuGalih and Folks menjadi lebih kaya, nuansa folknya sangat kental sekali.
Buat Gadis Rasyid, Anak Sungai, Kamu Yang Kecil dan Sore adalah lagu yang sangat sangat sangat saya suka dari Deugalih and Folks. Mendengarkan mereka seperti dibawa hanyut ke dalam suasana damai, syahdu, intim.  Sila simak video keren mereka di youtube.

  Teman Sebangku
Adalah sepasang teman berasal dari kota Bandung yang menyukai musik dan menjadikannya sebagai media untuk berbagi, apapun ceritanya. Si lelaki memetik gitar nylon dan si perempuan bersenandung[5]. Mengusung genre folk, klasik dan akustik. Riang, hangat, menyenangkan. Lagu favorit saya adalah Menari, Berhenti Sejenak dan  Berjalan Ke Barat di Waktu Pagi Hari (Sapardi Djoko Damono)

9   Banda Neira
Saya baru dua mingguan mengenal Banda Neira, ketika sedang menjelajahi soundcloud. Lagu pertama yang saya dengar adalah Ke Entah Berantah yang seketika membuat saya tersenyum kemudian berujar ”iss keren”. Lalu lagu-lagu berikutnya membuat saya berteriak: "Aaaaaaa kerennnnnnn!"
Yap,  jatuh cinta sekali dengan Banda Neira ini, terutama lagu Ke entah Berantah, Berjalan Lebih Jauh, Senja di Jakarta, Di Atas Kapal Kertas, aah semuanyaaaaaa.
Banda Neira adalah proyek iseng Rara Sekar & Ananda Badudu. Formatnya sederhana saja, dua orang dan satu gitar. Kadang ada xylophone mainan nyempil. Atau impersonisasi terompet berhubung tak punya alat sesungguhnya. Meski formatnya dua orang, mereka menolak disebut duo, inginnya disebut band. Tak tahu pasti apa maksudnya. Karena format sederhana, latihan pun bisa di mana saja. Bisa di atap kos-kosan, di ruang fitnes kedap suara, di warung sepi pengunjung, hingga rerumputan taman kota. Karena lirik lagu Banda Neira kebanyakan nelangsa, maka disebutlah genrenya nelangsa pop.[6]

     Mr. Sonjaya
Geloooo, enakeun pisaaan. Itulah kata-kata yang terbersit di kepala saya saat pertama mendengar lagu-lagu Mr. Sonjaya seperti Perjumpaan, Seandainya Sahabatku dari Luar Angkasa dan Musim Penghujan. Hahaha... lirik-lirik yang nyentrik asik menggelitik. Saya suka merekaaa... Lalu ada Would You Be My November yang menjadi lagu penutup November yang indah ini. Dan hmmm... "Would you be my november?: *sambil nowel Fauzi Baadila. Hia hia hia..
Mr. Sonjaya berasal dari Bandung (juga) dan terbentuk tahun 2009. Genre Folk yang mereka usung pun sempat membuahkan sebuah mini album di tahun 2009 yang bertajuk “Paket 2009 Detik”. Setelah melewati perjalanan panjang hampir empat tahun lamanya akhirnya mereka baru-baru ini merilis EP terbaru tepatnya pada tanggal 31 Mei 2013  berjudul “Perjumpaan” [7]

Selain mereka ada juga lagu-lagu dalam EP Taman Kenangan milik Yadi  Cubek (gitaris Deu Galih and Folks), atau lagu-lagu Harlan Boer seperti jajan Rock dan Sakit Generik, serta lagu dalam EP Satu Sisi milik Rinjani Reza, yang saya gemari. 

Oh iya, beberapa lagu yang saya sebut di atas bisa didengar di akun soundcloud saya, karna sudah saya repost. Tadinya akan saya sisipkan langsung di sini, tapi takut nambah berat badan blog, kasian kalo sampe obesitas, hehehe...

Seiring dengan kembalinya kejayaan folk di tengah scene musik indie, semakin bermunculan pula band folk lainnya. Sejumlah teman pernah merekomendasikan nama-nama seperti Diar, Knee and Toes, Star and Rabbit, Trades and Traffic, SemakBelukar, Rusa Militan, dll. yang akan segera saya cari tahu. 


Akhir kata, bila anda penyuka musik-musik bersahaja namun tetap indah dan kaya makna, sila simak karya-karya mereka. Dan bila ingin mengetahui apa itu musik folk, sila baca di sini atau di sini





[1] Payung Teduh, https://www.facebook.com/pages/Payung-Teduh/125695624113528?id=125695624113528&sk=info
[2] Dialog Dini Hari, https://www.facebook.com/dialogdinihariband/info
[3] Float, http://floatproject.com/
[4] http://wastedrockers.wordpress.com/2011/08/17/out-now-deugalih-folks-%E2%80%93-earth-single-album-2011-free-download/
[5] Teman Sebangku, https://www.facebook.com/temansebangkumusik?fref=ts
[6] Banda Neira, https://soundcloud.com/bandaneira
[7] http://redandwhitemag.com/2013/06/red-and-white-interview-with-mr-sonjaya-and-talks-about-new-ep-perjumpaan/

54 komentar:

  1. wuiih...pengetahuan musiknyajero pisan euy...hapal sampeke no. sepatu mereka deh ke'nya...;o)

    BalasHapus
    Balasan
    1. apalagi apal apa makanan kesukaan mereka juga kan

      Hapus
    2. dan hapal hobi serta cita-cita mereka juga *berasa biodata*,hahaha :D

      Hapus
  2. untuk musik yang satu ini mungkin pernah dengar atau menyaksikan tapi mungkin kurang tau
    salut deh yang suka musik ini...

    BalasHapus
    Balasan
    1. pasti udah pernah ko, cuma memang karna jarang disebut secara jelas kalo itu folk makanya jadi asing sama istilahnya... :)

      Hapus
  3. saya pernah dengar genre folk tapi kurang terlalu xpos..

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul...folk memang kurang terekspos. selama ini biasanya lebih dikenal sebagai lagu balad..

      Hapus
  4. sebentar.. saya ta' cari dulu lagu2nya. klo udah tau, baru saya komentar disini..

    I'll be back.. (kalau nggak kesasar)

    BalasHapus
    Balasan
    1. @mas Budy: beberapa lagunya ada di akun soundcloud saya, bisa diklik di postingan ini... :D

      Hapus
    2. @mas Agus: yang penting hapal jalan pulang, hehehe.... :D

      Hapus
  5. Assalamua'alaikun,punten Neng nembe tiasa amengan kadieu hehe,,,kumaha damang???nuhunwe ari damang mah hehe,,BTW Postnganya keren banget,itu saur si akang Cilembu meni jero pisan cenah hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waalaikumsalam Kang, alhamdulilah damang... teu sawios kang, ngartos nuju sibuk...hehe.. salam baktos.

      ah padahal da tidak terlalu jero, hanya sekedik sajah yang saya tau, hehehe, :D

      Hapus
  6. hebat euy pengetahuana mah... cocok jadi pengamat musik eheheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe hanya sekedar penikmat aja mang.. soalnya saya ga punya kemampuan mereview musik dengan baik, nulis juga cuma asal-asalan, hehehe...

      Hapus
  7. untuk jenis musik folk ini saya memang belum mengetahui dan mendengarkannya, untuk jass, balads dan keroncong saya sudah mendengarkannya dan sedikit ada ketertarikan pada musik-musik elegan tersebut

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe, sebenarnya udah familiar ko...kalo pernah denger lagu-lagu Bob Dylan maka itu genre musik folk. kalo di Indonesia, misalnya beberapa lagu Iwan Fals.. Ebiet G.Ade..

      Hapus
  8. saya belum mendegar banyak band folk lainnya.. :)

    BalasHapus
  9. hehe, yang di atas keren-keren loh, dan pengen cari tau lebih banyak lagi... :)

    BalasHapus
  10. king of convenience,the left,moriarty,city and colour

    BalasHapus
    Balasan
    1. halo, thanks dah mampir... dan makasih juga tambahan referensinya :)

      Hapus
  11. Toosss..dulu mbaknya, coba dengerin Nosstress menurut mbak ini masuk folk bukan?
    recomended :"tanam saja", "ini judulnya belakangan", "mengawali hari", "kita-ft.Sandrayati Fay"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nostress juga folk menurut saya... hehe.. Mereka juga keren :)

      Hapus
  12. hai, saya juga pecinta musik folk dan saya punya koleksi (insyaallah) lengkap dari mulai payung teduh, nada fiksi, mr. sonjaya, banda neira, tiga pagi, deu galih, teman sebangku, float.
    kalo boleh nambahin, musik dari 'jalan pulang', 'seiring waktu berjalan', 'silampukau', 'backwoodsun', the tree and the wild, dan 'senandung sore'.
    senang bisa berbagi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wiiiihhh keren, keren...lengkap koleksinya.... Ihh seneng deh ketemu kamu.. Oh iya, Jalan Pulang udah sering saya denger... saya paling suka yang Di Kota Ini Tak Ada Kamu lagi.. Trus sekarang saya ngetik komen sambil dengerin Berlin nya The Trees and The Wild.. :)

      Yang lain belum saya dengerin, insyaallah saya cari ntar..makasih banyak yaaa.... :)

      Hapus
    2. Senang bisa berbagi :)
      Malam ini dengan 'tidurlah' dari payung teduh memang pas :)

      Hapus
  13. Punya link untuk download lagu2 mereka gak? Mohon di bagi ya :)
    Saya cuma punya PT sama banda neira, saya juga mau mendengar lagu dari penyanyi lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo link download agak susah, saya biasanya dengerin dari youtube atau soundcloud.. coba aja buka soundcloud, trus ketik nama band nya, banyak ko... :)

      makasih ya udah mampir di sini... :)

      Hapus
  14. Tigapagi, Katjie & Piering, Sarasvati, Payung Teduh, udah mengubah diri saya teh. Agak terdengar 'lebay' sih, tapi itu yang saya rasakan. Dimana saya lebih produktif mengerjakan sesuatu sambil ditemani musik mereka hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. coba lo dengerin musik dari danilla, pasti lo bisa langsung nulis lagu.

      Hapus
    2. @vander & life for all : sepakaaattt, saya juga sering ditemenin mereka kalo lagi ngerjain sesuatu.. ga lebay ko, emang itu yang saya rasain juga.. :)

      Hapus
  15. coba aja lo semua dengerin musik dari danilla yang alirannya folk sama bossa nova. pasti ketagihan. nih link ya https://soundcloud.com/danilla-jpr

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe, yups..saya dengerin Danilla sejak beberapa bulan lalu dan juga udah beli cd Telisiknya, suer kereeeeennnnnnn

      Hapus
  16. Waw, sebagai sesama pecinta folk bandung kami jatuh cinta dengan tulisan mbak :) Angsa dan serigala juga walaupun tergolong ke baroque pop tapi mereka masuk ke folk secara umum loh.

    Ada band Rusa militan, heavily folk, Nuansa islandianya juga recomended mbak haha.. Mustache and beard juga, Sama lafagreen di soundcloud. dia produser dan gitarisnya Danilla. lumayan buat nambah referensi folk..

    Balik berkunjung ke blog kami yah, ada beberapa review CD dan info gigs di bandung yang penuh dengan cinta dari folk haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi, thanks yaaa udah mampir... makasih juga untuk tambahan referensinya... Segera berkunjung balik.. Salam.. :)

      Hapus
  17. saya juga sangat suka musik folk
    berawal dari saya bosan mendengar genre musik yang ngetrend saat ini itu itu saja,, saya mencoba mendengarkan musik dengan nuansa baru,, awalnya saya mendengarkan musik dari band The Trees and The wild yang mengusung aliran akustik folk,, (folk nya masih sedikit kental dengan aroma modern tapi keren) hit yang sering saya dengar antara lain "saija, Empati tamako, Our root, deru dan kesalahan"
    setelah itu saya semakin penasaran dengan musik folk,, saya cari info info ternyata benar apa kata mbak, masih minim info tentang musik folk
    tetapi itu tak membuat saya berhenti mencari tau tentang info musik folk dan bertemulah saya dengan sederetan band band folk yang keren di antaranya payung teduh , Aurette And The Polska Seeking Carnival, dll
    dan menurut saya folk mempunyai nuansa yang segar, sejuk mempunyai makna di setiap kata kata dari lirik yang mungkin lirik nya sulik di jabarkan artinya . tapi wow aku mulai jatuh cinta dengan musik folk

    BalasHapus
    Balasan
    1. The Trees and The Wild saya paling suka sama Berlin, hehehe...
      Sayangnya Aurette udah bubar yah, hikssss....

      Yup, folk itu nawarin nuansa yang sejuk dalam balutan kesederhanaan :)

      Hapus
  18. Bob dylan yang berakar pada musiknya Jonny The Kid , Jack Rollins dan Woody Guthrie yang akar musiknya pada Muddy Watter.
    doel sumbang oge folk . trus mang abuy oge yang judulnya da bogoh.
    ngan mereka mah folk sunda .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya penggemar berat Kang Doel Sumbang.. kalo Mang Abuy belum tau, kapan2 saya cari tau.. Wiih Jonny The Kid, Jack Rollins sama Woody Guthrie belum saya kenali tuh, asiik dapet referensi baru :)

      Hapus
  19. pandai besi coba kak, walaupun cover dari ERK. angsa serigala kak, 4:20 kak, masih buanyak lagi yang asoy kak. jangan lupa white shoes kak yang cadasssz :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, ERK, Pandai Besi, White Shoes udah akrab banget kalo saya, hihihi, tapi yang 4:20 baru tau tuh... makasih referensinya :)

      Hapus
  20. Tambahan nih kak, coba deh dengerin lagu-lagunya nostress sumpah keren

    BalasHapus
  21. nah, akirnya saya tau lagu2 untuk nambah daftar playlist.. dari dulu cumak payung teduh soalnya -.-"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, saya ikut seneng... Saya juga masih terus nyari grup musik yang lainnya :)

      Hapus
  22. kaloh abah iwan termasuk folk ga sih ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap.. Abah Iwan salah satu musisi folk dan balad legendaris :)

      Hapus
  23. Suka banget erk, banda neira, payung teduh, ddh, pandaibesi,ttatw.. Dan saya baru ngeh belum lama ini kalo saya suka musik folk, pun dari seorang teman. Makasih mbak jadi punya tambahan referensi musisi folk lainnya.. :)
    Ahh adhitia sofyan atau sarasvati (entah folk atau bukan) tapi enak didenger mbak...

    BalasHapus
  24. Coba dengerin lagunya frau. Kayaknya itu juga aliran folk

    BalasHapus
  25. stars and rabbit, melayang layang :))

    BalasHapus
  26. Great post, mba! Bener2 ngasih saya referensi semalem dengerin satu2 di soundcloud ampe subuh, ahaha. Kalo berkenan dengerin indie folk dr iceland, bisa cek judul-judul ini.. raudum sandi by ylja, ypung boys by sin fang, vonarstrond by ikorni (plg suka yg ini) terangkum di the hot spring, kerid cd 2013 collection.. sm dr alexrainbird music dia bikin rangkuman indie folk tiap bulan di youtube, yg oke so far.. charles william where you wanna be sm anthem academy every little beat. Semoga wawasan folk kita makin luas yaa ^^

    BalasHapus
  27. dapat pencerahan musik folk akhirnya. Makasi bnyak mba! Keren kerenn. Coba denger the avett brothers mba kali aja jatuh cinta juga.

    BalasHapus

Hei sobat, komenin postingannya dunk... Tapi pleaaseee jangan ninggalin link hidup di sini yaa, makasih ^^