Social Icons

Pages

Kamis, November 03, 2016

Cinta itu Bernama "maha tanpa huruf kapital"



Saya sadar betul bahwa kisah asmara saya yang terjal berliku membuat saya kerapkali merasa minder jika harus bicara tentang cinta, hehehe. Tau apa kamu soal cinta, Hana, umpat saya sebelum memulai tulisan ini. Tapi kali ini, sebentar saja, izinkan saya bicara. Tentang cinta yang tak kehilangan hangatnya meski bersahaja, yang semua itu bersumber dari sebuah karya apik bernama maha tanpa huruf kapital.

maha tanpa huruf kapital adalah sebuah buku yang ditulis Mas Bobhy dan Mbak Nhytha. maha tanpa huruf kapital bercerita tentang keseharian dan perkembangan maha, panggilan dari Mahatma Ali El Gaza, putra sulung mereka, yang kini telah jadi kakak bagi Suar Asa Benderang. Nama-nama yang manis dan penuh makna. Sila kunjungi blognya di sini untuk mengetahui catatan keseharian mereka. Kalian akan tau sendiri betapa menggemaskannya kakak beradik putra Bone ini.

Berulang kali membaca maha tanpa huruf kapital, berulang kali pula saya dibuat haru dan meleleh. Apa yang saya rasakan selalu sama : ada kehangatan yang menjalar di dalam dada setiap menyelami kisah mereka. Ada cinta yang begitu memesona.


Saya terpikat dengan si kecil maha, dan Suar juga, tentu saja.. kamu pun sama kerennya, Suar, hahaha..saya jatuh cinta dengan senyummu yang terpampang di foto-foto facebook Ibu Nhytha. Tapi kali ini saya bicara dulu tentang kakakmu, boleh ya? Hihihi… Jangan merasa terabaikan, Suar, saya ngefans juga dengan kau, hei bocah imut.

Kembali pada kakak maha..

maha, dengan tingkah polah khas kanak-kanak akan membuatmu turut riang saat mengikuti cerita demi cerita yang mengalir. Terlebih, maha telah demikian “nyeni dan intelek” sejak belia. Bocah kecil yang langka, haha. Ia sudah mengenal istilah emoyasi alias demokrasi di usia sangat muda, hahaha.. *ngomong-ngomong kakeknya emoyasi apa kabar, maha?*

Dan catat ini: siapa yang tidak akan jatuh hati pada bocah kecil yang menyukai Velvet Underground di usianya yang baru menginjak tiga tahun! Velvet Underground! Kamu keren, maha!

Ah betapa saya berharap anak saya kelak juga akan “indie sedari belia”, hahaha… Saya sudah merencanakan ini : kelak jika saya telah menikah dan memiliki buah hati, akan saya “jejali” anakku dengan Harlan Boer, Silampukau, Tigapagi atau mungkin Sigmun bahkan sejak ia masih kanak-kanak., hehehe..Insyaallah. *menikah sajalah dulu, Hana, jangan bicara tentang buah hati, kata seseorang di kepalaku*.

Kalau tidak salah, saya pertama mengenal Mas Bobhy dari sebuah komunitas blogger di facebook. Mulanya saya hanya berniat blogwalking, sebagaimana kebiasaan anggota komunitas untuk menjalin interaksi. Tapi kemudian saya jadi tertarik dengan cerita-cerita sederhana keluarga kecil ini, terlebih mas Bobhy sendiri penikmat musik indie. Saya pun invite akun facebook mas Bobhy agar dapat sharing tentang musik indie. Saya juga sempat invite ke Indienesia, komunitas penikmat indie yang sudah dua tahun ini vakum, hehe.. Bahkan seingat saya, saya kenal Payung Teduh pada 2013 silam juga dari status mas Bobhy di facebook. Itu zaman Payung Teduh masih belum setenar sekarang. Kemudian saya juga berkenalan dengan Mbak Nhytha sehingga mengetahui cerita-cerita seru perkembangan maha dan Suar di akun facebook beliau.

Kendati selama ini saya hanya bertegur sapa via dunia maya saja dengan mereka, namun keluarga Mas Bobhy dan Mbak Nhytha jadi inspirasi, bagaimana membangun keluarga indie yang bersahaja nan bahagia. Saya belajar banyak hal dari keluarga ini. Kelak, ah, semoga saya juga bisa membangun hal yang sama. Tentu saja jika calon pendamping hidup saya menyetujui ini. Apa kamu menyetujui ini, megaloman? Hahahahahahaha.

 Favorit saya dari maha tanpa huruf kapital salah satunya adalah ketika maha melafalkan “bam toyib nda puyang puyang”, wainiii..membacanya saja saya sudah tertawa. Andai saya bisa mendengarnya langsung.

Saya juga berandai-andai maha kelak jadi seorang musisi, penabuh jimbe mungkin. maha, kalau sudah besar dan kau betulan jadi musisi, kapan-kapan mainkan Semesta nya Maliq and D’Essentials ya. Atau itu, Jajan Rock nya Harlan Boer. Lagunya asik, maha. Oh nah, kalau kau sudah besar dan ada seorang gadis memikatmu, coba nyanyikan atau putarkan dia Ode tentang Kecantikan dari Greats. Saya ramal ia akan jatuh hati padamu hanya dalam sekali putar. Hihihi..

Selain itu, saya juga kagum dengan coretan gambar maha. Amboi, jadi musisi cum pelukis itu keren, maha.. jadi penulis juga pembaca puisi seperti ibumu juga keren. Atau mungkin Suar yang menuruni bakat ibu Nhytha. Tapi jadi apapun itu, kalian berdua, tumbuhlah jadi orang-orang keren yang rendah hati dan penuh kasih. Dan cintailah orangtua kalian yang luar biasa ini..

Rasanya saya seperti sedang menyampaikan amanat ya, hahaha… Maafkan saya, telah terdengar sok bijak dan sok menasehati. Saya hanya berharap kalian tetap keren hingga menua nanti.

Begitulah.

maha tanpa hurup kapital membuat saya jadi seorang yang penuh cinta.

maha tanpa huruf kapital dan tentu sosok maha sendiri adalah perwujudan cinta yang luar biasa.

Meski telah tiga tahun berlalu, hingga hari ini saya masih saja merasa takjub ketika mengenang saat di mana saya mendapat tawaran dari Mas Bobhy untuk menjadi bagian dari kontributor buku yang sedianya akan menjadi kado ulang tahun bagi maha.  Bagi saya yang mencintai buku dan menjadikannya bagian dari hidup, ide menulis buku bagi perayaan hari jadi buah hati adalah sebuah ide yang luar biasa istimewa. Sama menyentuhnya dengan ide menjadikan buku sebagai mahar pernikahan, seperti yang dilakukan Bung Hatta tatkala mempersunting Rahmi. Atau Galang pada Sanggita, seperti dalam Niskala nya Daniel Mahendra.

Betapa bahagia menjadi bagian dari maha tanpa huruf kapital.

Tak lama berselang setelah tawaran itu, buku tadi terbit sudah. Sayangnya saat itu saya keburu kehabisan sehingga nyaris saja saya tidak pernah tahu isi bukunya.

Namun segala sesuatu memang terencana dengan baik. Barangkali buku ini memang direncanakan Tuhan untuk tiba di tangan saya dengan cara yang lebih spesial. Buku yang menjadi kado ultah maha tahun 2012 ini beberapa tahun kemudian menjadi kado ultah saya yang ke 25 di 2015. Bagaimana bisa? Bukankah mas Bobhy dan mbak Nhytha sendiri mengatakan buku ini sudah habis dan belum dicetak lagi?

Jadi beginilah kisahnya…

Seseorang yang pernah bersama dengan saya selama lima tahun -tapi kemudian kami harus terpisah karena satu dan lain hal- menjadi perantara hadirnya buku maha di tangan saya. Rupanya menjelang hari ulang tahun saya, beliau mengontak penerbit indie tersebut,meminta dicetak satu saja untuk ia hadiahkan pada saya, padahal saat itu kami sudah berpisah. Dan padahal buku yang diterbitkan disitu memiliki kuota minimal. Tidak bisa cetak hanya satu buah saja. Saya tidak tahu pastinya bagaimana cara beliau sehingga penerbit tersebut akhirnya bersedia mencetak satu saja buku maha ini. Yang pasti,  upaya beliau tentu tidak mudah. Dan untuk itu saya sungguh berterimakasih..

Beliau memberikan hadiah terbaik sekalipun kami sudah tidak lagi bersama. Darinya saya belajar bahwa ketulusan sebetulnya tak mengenal batas. Selama kamu bisa memberi sesuatu dengan tulus, maka tak jadi soal apakah bersama atau jalani kisah masing-masing.

Saya tidak tahu cara mendeskripsikan perasaan semacam ini. Haru, pilu, rasa terima kasih yang begitu dalam..semua bercampur aduk, bersama rasa bersalah karena saya adalah orang yang pernah menyakitinya begitu dalam.

 Saya menginginkan buku maha tanpa huruf kapital lalu dia mewujudkan itu, melalui sebuah usaha yang tidak bisa dibilang sederhana. Jika kamu membaca ini, kamu tau, saya sangat berterimakasih. Saat ini saya hanya punya doa: Semoga suatu hari Tuhan membalasmu dengan memberikan keajaiban yang sama menggetarkannya.

Mas Bobhy, Mbak Nhytha,dan maha serta Suar (jika maha dan Suar kelak juga membaca ini), saya mohon maaf jika tulisan saya ini terlalu panjang dan juga sedikit membahas kehidupan pribadi. Maksud dari tulisan ini sebetulnya sederhana saja: saya ingin berterimakasih, karena pernah melibatkan saya dalam maha tanpa huruf kapital sehingga dari sana saya belajar cinta.. Cinta kasih yang menakjubkan dari orangtua untuk buah hati, cinta kasih sepasang suami istri yang layak menjadi panutan, serta cinta kasih yang tulus dari seorang yang kini telah saya anggap sebagai sahabat, sebagai kakak. Sekali lagi, terimakasih telah mengajari saya arti cinta, melalui maha tanpa huruf kapital.
  
Garut, November 2016

*menulis ini sejak September tapi baru bisa selesai pada awal November karna terlalu sibuk mengejar harta duniawi, hahaha... Saya juga menulis ini untuk menghormati kebaikan Sidiq Bachtiar, semoga sehat selalu. NB : kepada calon pendamping hidup saya, semoga tidak keberatan. Bagaimanapun, kebaikan siapapun mestilah harus dikenang. Semoga kamu setuju.

1 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus

Hei sobat, komenin postingannya dunk... Tapi pleaaseee jangan ninggalin link hidup di sini yaa, makasih ^^