Social Icons

Pages

Rabu, Maret 13, 2013

Legian Kuta


Di balik gemerlapnya Legian Kuta, ada anak-anak manusia dengan segala gundahnya membaur dalam pencarian arti hidup, arti kebebasan dan arti kebahagiaan 

Beberapa minggu terakhir saya membaca dua buku yang keduanya sama-sama membuat saya gelisah, membuat saya merenungi banyak hal. Bahkan saking gelisahnya, kedua buku itu berhasil menandingi buku yang paling sering bikin saya gelisah, yaitu buku catatan hutang, hehehe... gak dink. Lalu, tentang apakah kedua buku itu? Mengapa bisa membuat saya gelisah? 

Sebentar, saya tidak sedang membuat resensi, review atau apalah sejenisnya itu, saya hanya berbagi penilaian pribadi. Saya ga punya kualitas yang baik untuk ngeresensi sebuah buku. Apa yang saya tulis sekarang juga hanya sebuah ulasan sederhana. Di sini saya cuma mau berbagi kegelisahan. Jika mau dengar, mari sini, duduk dekat saya. Teguklah secawan gelisah yang saya suguhkan ini.

Buku yang pertama berjudul Legian Kuta, terbitan Pustaka Pelajar Januari 2013. Penulisnya N.Marewo, penulis Filmbuehne am Steinplatz, buku yang menenggelamkan saya pada kegelisahan ganjil yang kemudian menghantar saya pada pencarian makna hidup. Terlihat agak keren ya saya? Haaa.  Selama ini saya keliatannya terlalu banyak becanda, cengengesan, cacingan, tapi jauh di dalam diri ini saya adalah seorang yang gelisah, dan saya bahagia karenanya. YA, SAYA BAHAGIA MENJADI MANUSIA GELISAH. Kegelisahan saya adalah media Tuhan untuk mengajari saya memahami hidup dari kacamata berbeda. Meski saya sering letih disuguhi deretan tanya yang sukar terjawab, tapi saya nikmati sebagai anugrah. Kelak akan saya temukan satu per satu jawaban itu. Perlahan saja, sebab jika sekaligus, saya si mahluk kecil penuh batas ini tidak akan mampu mencerna.  Memang inilah bijaknya Sang Maha Bijak. Dan Dia akan terus ajari saya dengan caraNya yang selalu baik.

Tunggu, menjelang akhir tulisan ini akan ada satu quote yang bisa membuatmu bersyukur menjadi manusia gelisah. Quote yang saya ambil dari Legian Kuta. Akan saya tuliskan untukmu. Tapi sebelum itu, sila simak sinopsis Legian Kuta berikut ini:


Novel ini menguak sisi tersembunyi  tentang latar belakang sejarah turisme di Legian Kuta, Bali dan sepak terjang para pendatang dari berbagai penjuru dunia mendambakan hidup nikmat penuh kebebasan. Adakah mereka terjebak harapannya, ataukah meraih apa yang didambakan? Kompleksitas problematika manusia, seniman, hippies, surviver, pengembara, pecinta, pelacur, preman, pebisnis, hingga mereka yang mempertanyakan hakikat hidup tertoreh dengan gaya humanis. Kondisi psikologis tokoh dalam novel ini dieksplorasi penulis membuka tirai untuk menatap dunia lebih luas; sarat makna, pemikiran dan perenungan. Siapa sesungguhnya yang mengambil keuntungan dari kemajuan industri pariwisata? Apakah pribumi atau pendatang asing? Siapa saja yang diuntungkan dengan membanjirnya dolar yang mengalir ke Legian Kuta?


Legian Kuta adalah sebuah tawaran untuk mengenali Bali dari sisi berbeda. Dari buku ini kita bisa mengenal sejarah Legian Kuta serta latar belakang sejarah turisme di Legian Kuta, yang mungkin tidak banyak orang yang tahu atau peduli dengan ini. Coba pikirkan sebentar, apa yang terbayang di kepalamu saat mendengar Bali? Barangkali yang pertama melintas adalah pantai-pantainya yang indah, tarian khasnya, (ato mungkin bule-bulenya). Yah intinya ga jauh jauh dari pariwisata Bali dengan pesonanya, dengan kemewahannya. Tapi pernahkah terpikir bagaimana semuanya bermula? Bagaimana Bali bisa dikenal dan didatangi para wisman, bagaimana bisnis mulai menggurita dan siapa sebenarnya yang menangguk untung besar dari pariwisata Bali. Di buku ini akan kamu jumpai realitas yang mungkin akan mencengangkanmu. Bahwa di balik gemerlapan Bali sebagai unggulan pariwisata negeri ini ada permainan tangan-tangan yang mengingatkanmu pada sebuah ironi klise : bahwa kekayaan negerimu tidak seutuhnya kau nikmati. Bahkan mungkin tidak benar-benar kau nikmati. Tapi bukan hanya itu saja. Sebagian anak negeri dipecundangi, menjadi budak di negeri sendiri. Sebagian lagi tergelincir (atau digelincirkan?) kenikmatan semu buah dari gaya hidup hedonis yang dibawa masuk asing. Mentalitas dibuat kacau. Raga-raga yang kehilangan jiwa manusianya hilir mudik di hiruk pikuk Legian Kuta. Tanpa disadari.

Dan seperti yang disebut di atas, buku Legian Kuta adalah sebuah kompleksitas. Selain sejarah turisme, ada hal lain yang paling menarik saya. Adalah segala macam problematika anak manusia dengan sentuhan humanis yang membuat hati tergetar. Hal-hal yang sekian lama terpaksa kau sembunyikan di dalam jiwa manusiamu akibat tuntutan hidup perlahan menyembul keluar, mengetuk nurani dan mengguncang bawah sadar. Lalu tik tok,hei..  apakah aku masih manusia?

Begitu selesai baca saya mendadak murung. Sepanjang hari saya memilih di kamar, menyepi. Merasa sedih dan resah oleh sesuatu yang tidak saya mengerti. Yah, saya memang aneh. Mudah sekali merasa sendu, gelisah.. Seharian saya terus memikirkan tokoh-tokoh di dalam Legian Kuta. Kesepian yang mendera mereka juga mendera saya. Tanya dan harap yang mereka lontar juga kini memenuhi kepala saya. Wajah Khalil murung dan hatinya trenyuh sedih saat melintasi jalan Legian depan Monumen Bom Bali. Dipikirnya tragedi penderitaan yang dialami para korban. Kepalanya menggeleng lemah menilai betapa rendah manusia memandang dan memperlakukan yang lain. 

Legian Kuta memiliki seabrek tokoh dengan kisah hidup dan problemnya masing-masing. Beragam tokoh, beragam karakter, beragam kepelikan, beragam kisah -entah itu serpihan masa lalu, kini dan angan-angan masa depan- terurai. Di balik gemerlapnya Legian Kuta, ada anak-anak manusia dengan segala gundahnya membaur dalam pencarian arti hidup, arti kebebasan dan arti kebahagiaan

Penggambaran sisi humanis dalam buku ini menyentuh hal-hal yang selama ini ada di kepala tapi tidak terawat dengan baik. Mengajari bahwa seburuk apapun seorang manusia, dia adalah manusia. Yang dibekali hati. Seperti adegan salah satu tokoh bernama Khalil yang ngasih cincin emas untuk seorang pengemis. Gara-gara ini saya sampe mikir buat jadi... jadi seperti Khalil? Ngga. Saya berpikir untuk jadi pengemis aja dan berharap suatu hari ketemu orang sebaik Khalil, hahahaha *otak pengemis, wkwkwk

Tokoh-tokoh dalam buku ini juga berkarakter unik. Misalnya Wiliam, mantan tentara yang dipecat kemudian sukses membangun kerajaan bisnis di Legian Kuta. Karakter  Wiliam ini yang paling unik di antara semuanya kalo menurut saya. Penasaran? Baca aja, hehe.. Atau tentang Faisal, seniman Yogya yang hijrah ke Bali dan meninggalkan Hilda istrinya demi bersama Claudia, seorang wanita Kanada. Karna seenaknya meninggalkan istri maka saya kesel sama tokoh yang satu ini, heuheu. Tapi di satu sisi saya kagum dengan prinsipnya dalam berkesenian. Jarang ada seniman dengan konsistensi seteguh Faisal, rasanya. Ia berkarya sesuai inginnya, sekalipun hal itu membuat lukisannya tidak mudah diterima publik dan harus dipandang sinis oleh beberapa pelukis lain. Suatu ketika Faisal berujar pada Gatot : “Saya tak mau ubah ukuran dan warna yang kupakai karena alasan pasar. Saya tak ingin pungkiri, semasih nuraniku ingin melukis dalam ukuran dan warna itu kujalani walau tidak laku. Bagiku melukis semacam terapi. Dan itu kulakukan dari hari ke hari” (halaman 289). Sesulit apapun keadaan ekonomi yang membelit, Faisal tidak tergiur mengkomersialkan karyanya jika itu harus menggugat idealismenya sendiri. Itu keren dan langka.

Saya jadi inget sama lagu “Hidup Itu Pendek Seni Itu Panjang” dari Indie Art Wedding, duet apik Bang Cholil Efek Rumah Kaca dan istrinya. Begini liriknya: “Hai taukah kau bahwa hidup itu susah? Lebih baik engkau berkesenian saja...karna seni membuat semua terasa mudah, karna seni membuat semua jadi indah, karna seni membuat semua jadi asyik.. sebab hidup itu pendek, karna seni itu panjang, la la la la la la la la... “.  Hi Faisal, cobalah putar lagu ini setiap kali berkesenian melelahkanmu...maka energimu akan kembali.

Lalu ada tokoh Fadli, Lastri, Sukarti, Elisa, Ujang, Weye, Yamadin, Brigitta, dll. dan tentu saja, Khalil, yang mengingatkan saya pada Riski dalam Filmbuehne am Steinplatz. Tapi Fadli dan Faisal juga saya rasa merupakan potongan-potongan jiwa Riski. Yang pernah mengenal Filmbuehne barangkali akan sepakat dengan saya soal aura Riski pada Khalil atau Fadli.

Semua tokoh tadi membaur, saling bertalian, merajut hari, merajut asa di sudut-sudut Legian Kuta. Apakah akhirnya mereka menemukan apa yang mereka cari? Apakah sesungguhnya makna kebebasan dan kebahagiaan itu? Bagaimanakah semua berakhir? Sila temukan sendiri jawabannya. Yang mau pinjem bukunya ke saya boleh, biaya sewanya gocap yah sehari, hlooh. *otak bisnis. Hehehe..

Sejak dulu saya selalu menyukai cerita-cerita yang melibatkan banyak tokoh dengan beragam kisahnya tersendiri. Karena memang hidup itu begitu kan. Kompleks. Itulah kenapa saya juga suka sekali dengan film LOVE , itu loh film yang ada Widyawati dan almarhum Sophaan Sophian juga ada Fauzi Baadila (yang di situ sangat cool dan berhati emas, hoho). LOVE bercerita tentang anak-anak manusia dengan kisah cintanya masing-masing. Serius keren filmnya. Manis dan humanis. Oh iya, saking humanisnya ini film, saya sampe nangis sesenggukan hanya karna liat adegan Sophan Sophiaan dicukur di tempat cukur rambut.  Entah saya yang terlampau sentimentil ataukah sisi humanisnya bener-bener sukses mengaduk emosi. Di film tersebut alm. Sophaan Sopian yang menderita alzheimer menjalani hari dengan melakukan rutinitas yang sama tanpa disadari kalo rutinitas itu harusnya sudah berhenti dilakukan. Alm. Sophan yang berperan sebagai Pak Guru tidak ingat bahwa dirinya sudah pensiun sehingga setiap hari beliau dateng ke sekolah untuk mengajar, dan setiap hari pula Pak Kepala Sekolah menyambutnya ramah di gerbang lalu menyuruh beliau main catur saja, karna beliau kan sudah pensiun. Trus setiap hari juga Pak Guru pergi cukur rambut karena lupa apakah sudah cukuran atau belum. Sampe sampe tukang cukur cuma motong ujung-ujungnya aja karna bingung kalo tiap hari mesti cukur rambut yang sama. Eh kenapa jadi bahas film yah?

Oh iya, di awal saya berjanji akan ngasih satu quote, ini dia :
“Masalah apapun yang menimpa kita, semua itu tangga menuju puncak pencapaian. Hidup dan persoalan seperti air bagi dahaga. Dekaplah segala persoalan yang menimpa karena hanya mereka yang bermasalah dan pernah gelisah yang menemukan pencapaian. Betapa mengerikan hidup yang tak pernah gelisah karena mereka tak mencari apa-apa dan tak mendapatkan apa-apa selain kehilangan dan kepalsuan” (hal. 334)

Hanya mereka yang bermasalah dan pernah gelisah yang akan menemukan pencapaian. Indah bukan?

Jadi, jangan sedih jika kamu dibuat gelisah oleh hidup. Dibuat tidak mengerti, dibuat marah, dibuat lelah oleh berbagai masalah. Karna kamu sedang menuju pencapaian. Pencapaian itu bisa berupa keterpesonaanmu pada hidup, yang berarti juga pada Sang Pengatur Hidup. Maka, gelisahlah...

Oh iya, buku kedua setelah Legian Kuta yang baru saya baca adalah The Journey nya Gola Gong. Tapi buku ini akan saya bahas di postingan selanjutnya aja yah, semoga masih bersedia pantengin tulisan-tulisan kecil saya. Terimakasih sudah hadir. God Bless U. Salam.



*sambil dengerin Kuta Bali nya Andre Hehanusa. "di Kuta Bali cinta kita bersemi dan entah kapan kembali, mewangi dan tetap akan mewangi..bersama rinduku, walau kita jauh. Kekasih, suatu saat di Kuta Bali..."

10 komentar:

  1. amankan dulu pintu depannya...
    septong doang saya bacanya, cuman sampe "bahwa kekayaan negerimu tidak sepenuhnua kau nikmati....dari situ,ko' belum selesai juga ni cerita, discroll..walah masih panjang, simpen dulu buat bekel nanti malem dilanjutkan bolehkan?

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Sepertinya hana termasuk orang yang agak sensitif ya sampai-sampai terus memikirkan tokoh-tokoh yang ada di novel ini, kalo memang ada pertanyaan yang belum terjawab ya coba dibagi, jangan disimpen dan jadi gelisah sendiri :)

    By the way kalau kamu suka dengan novel-novel seperti novel Legian Kuta ini, sebaiknya kamu baca juga novel JK Rowling, The Casual Vacancy, yang super tebel itu, disitu juga banyak bercerita tentang beragam tokoh, beragam karakter dan problematikanya masing-masing :)

    BalasHapus
  4. @pak kades cilembu : hihihi, kepanjangan yah tulisannya? saya lagi semangat menulis ini teh kang, inspirasi sedang mengalir deras..janten weh agak susah direm, hehe... hatur nuhun sudah berkenan membaca walo tulisannya panjang sepanjang jalan kenangan, hee :D

    BalasHapus
  5. @seagate: masalahnya ga ada tempat berbagi dan bertanya mas, huhuhu...
    yaap saya ini emang orangnya sensitif dan sentimentil, hihi.. waah saya belum pernah baca tuh The Casual Vacancy, sepertinya keren, thanks infonya mas :)

    BalasHapus
  6. kirain tentang wisata.. :)
    gola gong biasanya nulis tentang perjalanan ya? :)

    salam kenal (pura-pura blum kenal)

    BalasHapus
  7. teteh,,, pinjem bukuna lah,,, panasaran euy,,,

    BalasHapus
  8. kunjungan teh,menyimak saja yah,baru pertama saya mampir ternyata banyak cerita yang menarik.

    BalasHapus
  9. @satubumikita: hehehe, kirain saya abis dari Bali yah? hahaha... aamiin, mudah-mudahan aja bisa kesana kapan-kapan :)
    Gola Gong emang suka nulis buku2 traveling gitu, mangga disimak di postingan saya yang berikutnya, hehe... salam kenal (pura-pura belum kenal juga, wkwkwk)

    BalasHapus
  10. @yusup: mangga kang, seharinya gocap yah? hahaha... :D

    @zig zoor : hehehe hatur nuhun parantos sumping... :)

    BalasHapus

Hei sobat, komenin postingannya dunk... Tapi pleaaseee jangan ninggalin link hidup di sini yaa, makasih ^^